Bertualang Menikmati Wisata Alam Pulau Sumba

Related Articles

Bertualang menikmati wisata alam Pulau Sumba, mengantar kilas balik misterius dari zaman megalitik, seolah kita berada pada lini masa yang sama. Bukit-bukit dengan desa tradisional sebagai puncaknya, zamrud padang rumput dan dinding batu. Saksi bisu sejarah panjang peradaban manusia di tanah Nusa Tenggara Timur, barat daya flores.

Memulai Bertualang menikmati wisata alam Pulau Sumba, diawali dari Bandara Tambolaka, Waitabula, Sumba. Sesampainya di Waingapu, jangan lupa untuk menyiapkan kebutuhan pokok, makanan, obat-obatan, rute perjalanan, dan moda transportasi yang hendak anda gunakan.

Media sosial mengambil peran besar dalam terbukanya berbagai destinasi wisata di Sumba. Jika anda tertarik bertualang dan “explore” Sumba, simak rekomendasi dari kami sampai tuntas ya!

Curug Terbesar di Sumba: Waikelo Sawah

Air terjun, dan waduk buatan tahun 1976 ini, pernah menjadi pembangkit listrik tenaga air, dan menjadi sumber air bersih untuk warga sekitar. Setelah tidak difungsikan, kini Waikelo Sawah telah diremajakan kembali oleh alam.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by SUMBA (@marapuheaven)

Laguna tersembunyi dalam bingkai hutan hijau di bawah kaki bukit, bertudung gua-gua bersejarah. Landscape eksotis yang mengelilingi air biru tidak berujung ini sebaiknya dikunjungi pada bulan Februari, Maret, dan November. Selain bertualang, anda juga bisa menyaksikan berbagai ritual tradisional di Sumba.

Pesona Danau Malaikat: Laguna Weekuri

Danau yang memiliki kolam pasang surut kurang dari 20 meter dari laut, birunya air yang berubah menjadi emas ketika matahari tenggelam. Anda dapat bertualang menikmati wisata alam pulau Sumba dengan santai, berenang di air yang tidak dalam, sinar matahari tropis hangat yang membuat anda ingin berlama-lama bermain air.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by BPJ 9EMILANG (@backpackerjakarta)

Rumah Kuno dan Tradisi Lokal dalam Desa Tradisional Ratenggaro

Salah satu desa di Pulau Sumba yang menyambut anda dengan rumah tradisional, terbuat dari bambu beratap setinggi 25 meter. Atap yang menjulang dibangun untuk menghormati roh leluhur, menurut kepercayaan Marapu.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Vicky Pattiasina (@v.pattiasina)

Ditambah pantai pasir putih, dengan air biru dan ombak yang bergulung panjang. Menjadi destinasi tersembunyi yang tidak jauh dari desa.

More on this topic

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

4 × three =

Advertisment

Popular stories