Antara Macet, Pekerjaan, dan Mimpi

Related Articles

Selasa malam. Entah jam berapa. Aku masih bergulat dengan pekerjaanku-yang entah mengapa-terus bertambah. Membuat bias setiap prioritas yang kumiliki.

Aku menutup telepon dengan kesal. Ingin mengumpat bos yang aneh. Tapi ya mau gimana lagi?

‘Selama kamu bekerja untuk orang lain, nggak ada yang namanya situasi ideal.’

Begitulah yang biasa aku katakan pada teman-temanku. Dan kini aku merasa aku ingin menjilat ludah sendiri.

Aku segera menelepon salah seorang sahabatku di kantor. Dia sudah pasti tahu situasi apa yang terjadi.

“Capek ya? Sama. Aku juga.” ujarnya sambil tertawa. Kusambut dengan tawa prihatin pula.

Aku berkeluh kesah soal pekerjaanku. Yang bodohnya tak kusadari, bahwa ia juga memiliki beban yang sama denganku. Kita sama-sama memikul tanggung jawab besar.

Satu jam lebih kuhabiskan untuk bertukar cerita. Keluh kesah saling kami lempar. Kadang saling goda. Seolah tiada waktu lagi untuk mengeluh, kami habiskan waktu.

Aku yang sedang menemani adikku di bengkel. Merasa mulai gatal-gatal karena gigitan nyamuk dari got yang ada di bawahku.

Iya, got. Aku duduk di atas papan D-I-Y yang dirakit masyarakat kampung. Sungguh kreatif. Membuat tempat duduk di atas got.

More on this topic

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

1 × one =

Advertisment

Popular stories